EDUCATION EXPO

April 5th, 2008 by ukhtyhera

INSAN KAMIL EDUCATION EXPO

Sebagai bentuk kepedulian terhadap mutu dan kualitas pendidikan di

kota

Tuban dan dalam memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengali informasi lebih rinci tentang kurikulum, model pembelajaran dll yang ada di Insan Kamil Tuban, maka Yayasan Bina Insan Kamil menggelar acara yang bertajuk “INSAN KAMIL EDUCATION EXPO’, yang dilaksanakan pada hari sabtu-ahad, 15-16 maret 2008. Dalam rangkaian kegiatannya Insan Kamil menggelar beberapa kegiatan diantaranya Talk show, Science and Art Workshop, Pameran hasil karya anak, bazaar buku-buku edukasi, aneka merchandise dan beberapa Fasilitas Gratis diantaranya: Klinik belajar yang disini orang tua dapat konsultasi seputar permasalahan anak, Information Technology (IT) Skill, juga Drive Your Physic yang berpusat di Pujasera GOR Tuban.

Talk show yang berjudul “Semua Anak Adalah Cerdas” di adakan pada hari sabtu, 15 maret 2008 dengan pemateri Bapak Martadi, M.pd (Dirjen Pendidikan Jawa Timur ,Konsultan Pendidikan Jawa pos) dan konsultan pendidikan Jawa Timur Ustad Imam Mawardi yang sekaligus ketua Yayasan Bina Insan Kamil Tuban. Talkshow yang diikuti 120 peserta yang berasal dari perwakilan beberapa guru PG-TK-SD Tuban dan sekitarnya serta beberapa peserta dari masyarakat Umum.

Pada hari yang sama Insan Kamil juga membuka pelatihan IT (Information Technology) secara gratis yang diperuntukkan siswa PG/TK dengan materi Drawing and Coloring For Childreen dengan instruktur dari siswa TK Insan Kamil dan untuk siswa SD dengan materi Pengenalan Internet. Stand IT juga telah menampilkan Presentasi Pembuatan Email dan Blog dari siswa kelas 3 SDI Insan Kamil Tuban.   

Science and art workshop diadakan pada hari ahad, 16 Maret 2008 dengan peserta Science workshop sejumlah 121 peserta dan art workhshop sejumlah 121 peserta. Latar belakang peserta membidik sasaran siswa PG-TK-SD wilayah Tuban. Dalam science workshop anak-anak diperkenalkan percobaan-percobaan ilmiah seperti bagaimana cara membuat lem, menetralisir racun, membuat roket balon, sablon sederhana, membuat lampu aladin, dll. Sedangkan pada art workshop anak-anak  dilatih melukis dengan media kaos. Begitu banyaknya peserta yang berantusias untuk mendaftarkan putra-putrinyasehingga ada yang tidak berkesempatan menjadi peserta workshop. Untuk itu panitia menyediakan beberapa fasilitas gratis yang dapat dinikmati mereka.

EMANSIPASI SEBAGAI PROPAGANDA RUNTUHNYA

April 5th, 2008 by ukhtyhera

EMANSIPASI SEBAGAI PROPAGANDA RUNTUHNYA

AQIDAH ISLAM

"Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

Propaganda Yahudi Melalui Emansipasi

Begitu hebatnya seorang wanita, sampai-sampai dalam sebuah media

massa

maupun media elektronik selalu di ekspose dalam kemasan cover yang apik. Kurang lengkap rasanya jika dalam sebuah rubrik media cetak tidak menampilkan sosok seorang wanita. Oleh karena itu para feminisme menggaungkan suaranya bahwa wanita bukan lagi menjadi sebuah konsumsi domestik. Seorang wanita harus berda di depan publik dan memiliki hak yang sama terhadap laki-laki dalam segala hal. Mereka kesankan bahwa Islamlah yang membelenggu kebebasan seorang wanita dalam mengekspos potensinya. Menyoroti sebuah idealisme yang timbul dari para feminis, yaitu para pengusung “emansipasi” wanita. Sepertinya mereka masih belum puas dengan cara menuntut persamaan, keadilan dan kebebasan. Padahal Allah SWT berfirman:

“Akan tetapi kaum laki-laki mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada kaum wanita” (QS. Al-Baqarah:228) 

Juga dalam An-Nisa 34: “Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Atas dasar itulah, maka kaum laki-laki memiliki posisi satu tingkatan di atas kaum wanita. Namun Allah telah memberikan hak yang sama dalam meraih pahala, baik itu laki-laki maupun perempuan.

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)

Di era post modern, wanita sebagai sasaran Yahudi untuk merusak Islam baik melalui model pakaian yang dimunculkan maupun aturan-aturan lain yang mengklaim bahwa Islam tidak meninggikan harkat dan martabat kaum wanita. Jika kita berfikir cerdas, seharusnya orang muslim mampu menduduki peran pokok disetiap ruang publik yang ada. Media

massa

(umum) perlu ditempati figur seorang muslim yang mampu mengontrol dan menyeleksi tulisan maupun gambar yang masuk agar tetap pada aturan Islam. Bukan sebuah pornografi yang disuguhkan. Sutradara film yang mampu menampilkan film Islami, sehingga masyarakat mampu meresapi indahnya hidup dalam Islam. Bukan seperti beberapa tenleet atau sinetron religius saat ini yang lagi marak. Sinetron religius, namun dalam cerita terdapat dua tokoh utama yang berpacaran. Producer TV memiliki peran menyeleksi perfilman maupun periklanan. Dengan adanya seorang ikhwah yang memiliki peran penting disana, akan membawa pengaruh yang cukup besar. Paling tidak jika dia mampu menyerukan kebenaran dengan tidak mengeksploitasi para wanita sebagai komoditas barang dagangan. Keelokan wanita yang seharusnya dipersembahkan untuk suami tercintanya itu, dengan mudahnya di eksploitasi pada media elektronik seperti televisi dan internet serta pada media

massa

yang lain.

Setiap manusia harus menyerukan sebuah kebenaran, minimal dengan satu kata. Dalam hal ini bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mengajak saudara-saudara menuju jalan yang lurus. Menjadi sebuah tanda tanya besar jika kita terlalu sibuk memikirkan kubangan politik, padahal masih banyak ruang publik lainnya yang harus kita jamah demi terjaganya semua “darah kaum muslimin.”

Ukhty fillah….

Tak taukah kalian bahwa musuh kita sudah dekat? Pola pikir Yahudi memasuki saudara-saudara kita yang notabene kurang tau tentang ajaran Rasulullah, yang sebenarnya sungguh memuliakan harkat dan martabat seorang wanita. Jika kalian berfikir tentang umat, tindakan apa yang sudah kalian lakukan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita? Saudara-saudara kita telah dijadikan komoditas murahan dan obyek kesenangan bagi para kapitalis. Bukan karena sebuah pola pikir yang cerdas penokohan seorang wanita kini dimunculkan, melainkan wanita di eksploitasi sebagai benda penghias, pemanis dan pemuas nafsu para laki-laki (afwan, red). Kehormatan wanita telah di injak-injak dengan menampilkan aurat. Ukhty fillah, jika hal ini kalian biarkan, bagaimana generasi 10 tahun yang akan datang?   

            

Islam Terhadap Pemberdayaan Kaum Wanita

Islam begitu memperhatikan pemberdayaan setiap muslim, bukan hanya laki-laki, melainkan wanita. Selain Islam memotivasi setiap muslim untuk mencintai dan menguasai ilmu, Islam juga mengajarkan bagaimana cara pencapaian ilmu. Seperti apa yang digambarkan dalam majalah Asy Syariah, vol IV: bahwa kita patut meneladani seorang shahabiyah barnama Asy-syifa’ Al-‘Adawiyah yang sangat meneladani ilmu. Melalui penguasaan ilmu itulah kaum Hawa akan mampu berkiprah. Inilah proses peberdayaan kaum wanita yang hakiki. Mengentaskan kebodohan yang menyelimuti seorang wanita. Maka, disaat para pegiat emansipasi melakukan retorika semu, Islam jauh lebih dulu mendorong umatnya beramal nyata untuk memperhatikan kaum wanita.

Kewajiban Berjilbab Dan Hikmahnya

Allah SWT menghendaki seorang wanita untuk menutupi keindahan tubuhnya dengan mengenakan jilbab. Hal itu karena dinilai wanita terlalu mahal untuk dipertontonkan kepada yang bukan mahromnya. Itulah penghargaan Islam terhadap wanita. Jika wanita mampu menutup anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan, maka wanita yang demikian itu sangat terhormat dan berharga.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (An-Nur 32)

Firman Allah SWT juga terdapat dalam QS Al-Ahzab: 59

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kaulah Bidadari Surga

Siapa yang tak mau menjadi bidadari surga. Menjadi bidadari surga adalah sebuah nikmat yang sungguh luar biasa. Bidadari itu di gambarkan dalam QS. Ar-Rahman dengan kebaikannya, kecantikannya yang jelita, putih bersih dan dipingit dalam rumah. Mereka tidak pernah di sentuh oleh manusia sebelum mereka (kecuali penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Dengan kecantikan bidadari yang begitu jelita, sampai Allah gambarkan bahwa bidadari laksana permata surga.

Hati manusia mana yang tidak akan rindu, tenteram, damai dan bahagia bila berada disamping bidadari surga yang cantik dan tak pernah disentuh oleh siapapun, kecuali suaminya. Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula. “Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan” (QS Al Waqiah : 56)

Rasulullah bersabda “Kerudung yang bertengger dikepalanya (bidadari) lebih bagus dan lebih indah daripada dunia dan segala isinya” (HR. Bukhari)

Wahai wanita, janganlah engkau cemburu terhadap bidadari surga, karena kau bisa menjadi lebih utama daripada bidadari surga, selama kau mampu mengendalikan nafsu dan godaan syaiton. Seperti apa yang Rasulullah terangkan:

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.” Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?” Beliau menjawab, “Karena sholat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya diwajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.” Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.” (HR. Ath Thabrani, dari Ummu Salamah).

Di Riwayatkan bahwa Ummul Mu’minin Ibunda Aisyah ra berkata:

“Setiap kali bidadari-bidadari bernyanyi dengan merdunya, kamilah si cantik jelita, kamilah si lembut gemulai…(maka) wanita dunia yang masuk ke surga menjawab, ‘(dulu) kami sholat dan kamu tidak, kami berwudhu dan kamu tidak’,… maka bidadari surga tidak bisa menjawab.”

Ukhty Fillah…

Marilah kita berlomba-lomba menata kebaikan dalam diri dan mengajak sesama agar bisa menjadi bidadari surga, seorang bidadari surga (dari dunia) yang kelak menduduki singgasana Arsy-Nya dan berjumpa dengan Allah dan Rasul. Amin.

kisah

March 5th, 2008 by ukhtyhera

Kembara sang bulan menyisir keredupan, berbisik lirih tentang senyum kecil nan ramah. Wajah kecilnya itu terlihat bahagia bersama kawan-kawannya meski ia tak membawa bekal saat istirahat. Ia tetap ceria. Mendengarkan cerita teman-temannya yang lagi makan. Meski ia tak makan. Ku tawari roti yang ku bawa dari rumah. Namun ia menolaknya dengan halus dan mengucapkan terima kasih. Lagi-lagi wajah imut itu selalu membuatku terperanga dengan tingkah lakunya yang begitu dewasa dibanding teman-teman seusianya. Empati yang dimiliki membuat orang yang lebih tua harus belajar darinya.

Namanya Vita. Entah kenapa hari ini ia beda dengan hari-hari biasanya. Vita yang terkenal penurut itu justru membuat ulah di kelas. Ia bermain lari-lari dan berteriak dalam kelas. Padahal peraturan yang ada, supaya anak menggunakan suara lembut dalam kelas. Mainan kejar-kejaran berada di area luar kelas. Namun ia sama sekali tak menghiraukan ucapanku. Saat itu kegiatan inti sentra seni sudah usai. Sebelum memasuki lab komputer, anak-anak membiasakan diri untuk membereskan mainan dan mengembalikan pada tempat semula. Karena itulah konsep permainan sesungguhnya. Belajar mengambil mainan dari tempatnya, bermain sampai mengembalikan lagi mainan tersebut.

Lagi-lagi Vita tak terlibat kegiatan ini. Ia malah asyik bermain dengan teman-temannya. Sampai-sampai ia merobohkan whiteboard kelas dan mengenai kepala temannya. Ku coba peringatkan lagi supaya tak main kejar-kejaran dalam kelas. Ia mengalihkan mainannya dengan bermain bongkar pasang boneka dan gaun-gaun pesta. Bongkar pasang itu ia lepaskan dari rekatannya, padahal masih ada beberapa putaran kelompok lagi yang harus masuk di sentra seni dengan sub tema yang sama, yaitu aku pakai bajuku sendiri. Jika bongkar pasang itu rusak, maka harus mencari lagi untuk kelompok lainnya.

Akhirnya kutanya solusi apa yang bisa ia berikan supaya kelompok esoknya bisa bermain disini dengan permainan yang sama. Mereka terdiam. Akhirnya inkul komputer pun aku batalkan sebagai punishment pada kelompok mereka. Memang tak adil, dua anak buat ulah namun yang lain kena imbasnya. Mau dikata tak bijak dengan keputusan yang kuberikan? apapun perkataan yang pantas untukku, namun aku lebih memilih untuk mengganti jam komputer dengan menambah jam membaca, menulis dan mengaji yang selama ini mungkin dikata momok buat anak-anak.

Vita dan Jihan masih terdiam di kelas, saat teman-temannya ambil air wudhu. Akupun ganti tak menghiraukan mereka. Sepertinya terlalu sayang kalau aku harus memperhatikan hal-hal yang sepele. Akupun menyibukkan diri dengan membersihkan kelas dan memastikan bahwa kelas akan safe untuk kondisi anak-anak belajar.

Dua anak itu mendatangiku dan memberikan hasil karyanya yang sudah dilipat-lipat. Bukankah ini disain gaun kesayangan yang aku puji indah tadi? Gumamku dalam hati. Ah, masa bodoh. Lembar karyanya yang dilipat-lipat itu akhirnya ku lempar diloker. Ups, bukan bermaksud untuk tidak menghargai hasil karya mereka. Aku akan mengambilnya dan menaruh lembar karya pada tempatnya setelah setelah kelas terlihat bersih.

“udah dibuka us?” Tanya Jihan dan Vita. Apa dia ngasih

surat

? Pikirku. Aku coba mengingat-ingat dengan lembar karya yang ia lipat-lipat tadi. Mungkin itu yang ia maksud. Aku pun mencarinya kembali dari loker. Jihan dan Vita pun lari, mungkin mengira bahwa aku masih marah. Kubuka perlahan lembar kertas lipat itu. Coba berfikir apa yang bisa ia tulis. Sebuah

surat

singkat tertulis dari jemari anak-anak polos tanpa dosa itu.

Ustadzah….

Aku dan Jihan ingin menangis…

Maafin aku dan Jihan ya ustadzah…..

Dari Vita dan Jihan

Subhanallah, sungguh kalimat-kalimat itu telah menyadarkanku dari sebuah kealpaan. Aku lupa bahwa dunia anak adalah bermain. Dan tak seharusnya konsep atau aturan yang ada itu selalu aku terapkan setiap harinya. Mungkin itu akan membuat mereka jenuh. Aku lupa bahwa dunia mereka tidaklah seperti duniaku yang selalu dipenuhi dengan aturan. Aku sesali. Kenapa baru sekali aja mereka melanggar kesalahan, namun aku sudah memarahinya meski tak menatap dengan sorot mata yang berbeda.

Jika boleh ku refresh. Seorang bocah kecil Jihan yang mempunyai murah senyum dan Vita yang mempunya empati tinggi, ia pernah membuatku kagum. Saat itu, aku yang sedang sakit dan memaksakan diri untuk mengajar. Hal ini justru membuat kondisi ruangan kelas tak bisa terhendel karena pita suara yang tiba-tiba tak mau keluar. Sungguh kuwalahan mengatur anak-anak, apalagi hanya dengan isyarat bahasa tubuh. Memang apa yang bisa diperbuat oleh seorang anak-anak seusia TK. Hanya tawa yang ada melihat gurunya bertingkah seperti orang bisu. Vita, anak yang manis itu memperingatkan teman-temannya untuk tidak bersuara keras dan meminta teman-temannya untuk patuh. Tak lepas dari syukur, ternyata diantara 15 anak yang kualahan kuhadapi ada seorang anak yang berempati dengan kondisiku. Beberapa hari aku istirahat di rumah sampai kondisiku benar-benar fit untuk mengajar.

Saat esok harinya aku masuk, Vita menghampiriku dan bertanya “bagaimana kondisi ustadzah, apa sudah sehat? Suaranya sudah nggak hilang lagi?” beberapa anak-anak nyeletuk “ustadzah suaranya nggak hilang, tapi habis!!!” aku pun tersenyum “makasih ya sayang ini berkat do’a kalian.”