EMANSIPASI SEBAGAI PROPAGANDA RUNTUHNYA
AQIDAH ISLAM
"Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".
Propaganda Yahudi Melalui Emansipasi
Begitu hebatnya seorang wanita, sampai-sampai dalam sebuah media
massa
maupun media elektronik selalu di ekspose dalam kemasan cover yang apik. Kurang lengkap rasanya jika dalam sebuah rubrik media cetak tidak menampilkan sosok seorang wanita. Oleh karena itu para feminisme menggaungkan suaranya bahwa wanita bukan lagi menjadi sebuah konsumsi domestik. Seorang wanita harus berda di depan publik dan memiliki hak yang sama terhadap laki-laki dalam segala hal. Mereka kesankan bahwa Islamlah yang membelenggu kebebasan seorang wanita dalam mengekspos potensinya. Menyoroti sebuah idealisme yang timbul dari para feminis, yaitu para pengusung “emansipasi” wanita. Sepertinya mereka masih belum puas dengan cara menuntut persamaan, keadilan dan kebebasan. Padahal Allah SWT berfirman:
“Akan tetapi kaum laki-laki mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada kaum wanita” (QS. Al-Baqarah:228)
Juga dalam An-Nisa 34: “Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Atas dasar itulah, maka kaum laki-laki memiliki posisi satu tingkatan di atas kaum wanita. Namun Allah telah memberikan hak yang sama dalam meraih pahala, baik itu laki-laki maupun perempuan.
“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)
Di era post modern, wanita sebagai sasaran Yahudi untuk merusak Islam baik melalui model pakaian yang dimunculkan maupun aturan-aturan lain yang mengklaim bahwa Islam tidak meninggikan harkat dan martabat kaum wanita. Jika kita berfikir cerdas, seharusnya orang muslim mampu menduduki peran pokok disetiap ruang publik yang ada. Media
massa
(umum) perlu ditempati figur seorang muslim yang mampu mengontrol dan menyeleksi tulisan maupun gambar yang masuk agar tetap pada aturan Islam. Bukan sebuah pornografi yang disuguhkan. Sutradara film yang mampu menampilkan film Islami, sehingga masyarakat mampu meresapi indahnya hidup dalam Islam. Bukan seperti beberapa tenleet atau sinetron religius saat ini yang lagi marak. Sinetron religius, namun dalam cerita terdapat dua tokoh utama yang berpacaran. Producer TV memiliki peran menyeleksi perfilman maupun periklanan. Dengan adanya seorang ikhwah yang memiliki peran penting disana, akan membawa pengaruh yang cukup besar. Paling tidak jika dia mampu menyerukan kebenaran dengan tidak mengeksploitasi para wanita sebagai komoditas barang dagangan. Keelokan wanita yang seharusnya dipersembahkan untuk suami tercintanya itu, dengan mudahnya di eksploitasi pada media elektronik seperti televisi dan internet serta pada media
massa
yang lain.
Setiap manusia harus menyerukan sebuah kebenaran, minimal dengan satu kata. Dalam hal ini bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mengajak saudara-saudara menuju jalan yang lurus. Menjadi sebuah tanda tanya besar jika kita terlalu sibuk memikirkan kubangan politik, padahal masih banyak ruang publik lainnya yang harus kita jamah demi terjaganya semua “darah kaum muslimin.”
Ukhty fillah….
Tak taukah kalian bahwa musuh kita sudah dekat? Pola pikir Yahudi memasuki saudara-saudara kita yang notabene kurang tau tentang ajaran Rasulullah, yang sebenarnya sungguh memuliakan harkat dan martabat seorang wanita. Jika kalian berfikir tentang umat, tindakan apa yang sudah kalian lakukan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita? Saudara-saudara kita telah dijadikan komoditas murahan dan obyek kesenangan bagi para kapitalis. Bukan karena sebuah pola pikir yang cerdas penokohan seorang wanita kini dimunculkan, melainkan wanita di eksploitasi sebagai benda penghias, pemanis dan pemuas nafsu para laki-laki (afwan, red). Kehormatan wanita telah di injak-injak dengan menampilkan aurat. Ukhty fillah, jika hal ini kalian biarkan, bagaimana generasi 10 tahun yang akan datang?
Islam Terhadap Pemberdayaan Kaum Wanita
Islam begitu memperhatikan pemberdayaan setiap muslim, bukan hanya laki-laki, melainkan wanita. Selain Islam memotivasi setiap muslim untuk mencintai dan menguasai ilmu, Islam juga mengajarkan bagaimana cara pencapaian ilmu. Seperti apa yang digambarkan dalam majalah Asy Syariah, vol IV: bahwa kita patut meneladani seorang shahabiyah barnama Asy-syifa’ Al-‘Adawiyah yang sangat meneladani ilmu. Melalui penguasaan ilmu itulah kaum Hawa akan mampu berkiprah. Inilah proses peberdayaan kaum wanita yang hakiki. Mengentaskan kebodohan yang menyelimuti seorang wanita. Maka, disaat para pegiat emansipasi melakukan retorika semu, Islam jauh lebih dulu mendorong umatnya beramal nyata untuk memperhatikan kaum wanita.
Kewajiban Berjilbab Dan Hikmahnya
Allah SWT menghendaki seorang wanita untuk menutupi keindahan tubuhnya dengan mengenakan jilbab. Hal itu karena dinilai wanita terlalu mahal untuk dipertontonkan kepada yang bukan mahromnya. Itulah penghargaan Islam terhadap wanita. Jika wanita mampu menutup anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan, maka wanita yang demikian itu sangat terhormat dan berharga.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (An-Nur 32)
Firman Allah SWT juga terdapat dalam QS Al-Ahzab: 59
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kaulah Bidadari Surga
Siapa yang tak mau menjadi bidadari surga. Menjadi bidadari surga adalah sebuah nikmat yang sungguh luar biasa. Bidadari itu di gambarkan dalam QS. Ar-Rahman dengan kebaikannya, kecantikannya yang jelita, putih bersih dan dipingit dalam rumah. Mereka tidak pernah di sentuh oleh manusia sebelum mereka (kecuali penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Dengan kecantikan bidadari yang begitu jelita, sampai Allah gambarkan bahwa bidadari laksana permata surga.
Hati manusia mana yang tidak akan rindu, tenteram, damai dan bahagia bila berada disamping bidadari surga yang cantik dan tak pernah disentuh oleh siapapun, kecuali suaminya. Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula. “Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan” (QS Al Waqiah : 56)
Rasulullah bersabda “Kerudung yang bertengger dikepalanya (bidadari) lebih bagus dan lebih indah daripada dunia dan segala isinya” (HR. Bukhari)
Wahai wanita, janganlah engkau cemburu terhadap bidadari surga, karena kau bisa menjadi lebih utama daripada bidadari surga, selama kau mampu mengendalikan nafsu dan godaan syaiton. Seperti apa yang Rasulullah terangkan:
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.” Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?” Beliau menjawab, “Karena sholat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya diwajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.” Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.” (HR. Ath Thabrani, dari Ummu Salamah).
Di Riwayatkan bahwa Ummul Mu’minin Ibunda Aisyah ra berkata:
“Setiap kali bidadari-bidadari bernyanyi dengan merdunya, kamilah si cantik jelita, kamilah si lembut gemulai…(maka) wanita dunia yang masuk ke surga menjawab, ‘(dulu) kami sholat dan kamu tidak, kami berwudhu dan kamu tidak’,… maka bidadari surga tidak bisa menjawab.”
Ukhty Fillah…
Marilah kita berlomba-lomba menata kebaikan dalam diri dan mengajak sesama agar bisa menjadi bidadari surga, seorang bidadari surga (dari dunia) yang kelak menduduki singgasana Arsy-Nya dan berjumpa dengan Allah dan Rasul. Amin.